Langkah kaki Narisa Sasta Vinura, Nuriswatu Laf’idah, dan Wasia Lauda menjejak Bandara Internasional Juanda, Surabaya, pada 18 Oktober 2025, bukan sekadar awal perjalanan lintas negara. Bagi tiga mahasiswa Fakultas Agama Islam (FAI) Universitas Islam Lamongan (Unisla) itu, keberangkatan tersebut menjadi pintu menuju pengalaman belajar yang lebih luas, lewat program Kuliah Kerja Nyata (KKN) Internasional di Malaysia.
Pesawat yang mereka tumpangi membawa harapan sekaligus rasa cemas. Namun, rasa itu segera berubah menjadi antusiasme ketika mereka tiba di Kuala Lumpur dan disambut hangat oleh komunitas Sekolah Indonesia Kuala Lumpur (SIKL), tempat mereka bertugas selama program berlangsung.
“Kami merasa seperti pulang ke rumah, meskipun berada di negeri orang,” ujar Narisa mengenang sambutan awal dari para guru dan siswa SIKL. Menurutnya, keramahan warga sekolah membuat proses adaptasi berjalan lebih cepat dari yang dibayangkan.
Tugas utama mereka adalah mengajar. Di ruang-ruang kelas SIKL, ketiganya berperan sebagai guru pendamping, mengajar mata pelajaran keagamaan sekaligus membantu kegiatan pembelajaran lainnya. Nuriswatu mengatakan, mengajar anak-anak Indonesia di luar negeri memberi perspektif baru tentang makna pendidikan. “Kami belajar bahwa identitas kebangsaan tetap hidup meski jauh dari tanah air,” katanya.

Wasia menambahkan, tantangan terbesar adalah menyesuaikan metode pengajaran dengan karakter siswa yang beragam latar belakangnya. “Ada anak diplomat, pekerja migran, hingga pebisnis. Kami harus kreatif agar pembelajaran tetap menyenangkan,” ujarnya.
Di luar kelas, mereka berinteraksi langsung dengan komunitas pekerja migran Indonesia di Malaysia. Dari obrolan santai hingga kegiatan keagamaan bersama, ketiganya mendengar banyak cerita tentang perjuangan hidup di negeri orang. “Mereka bekerja keras demi keluarga di Indonesia. Itu membuat kami lebih bersyukur,” tutur Narisa.
Salah satu pengalaman yang paling membekas adalah kegiatan memasak bersama warga dan guru SIKL. Dapur sekolah berubah menjadi ruang kebersamaan, tempat aroma masakan Indonesia seperti rendang, sambal, dan tempe goreng menyatu dengan tawa. “Memasak bersama membuat kami merasa dekat, seperti keluarga,” kata Nuriswatu.
Tak hanya belajar dan mengajar, mereka juga menyempatkan diri menjelajahi kota. Menara Kembar Petronas menjadi salah satu destinasi favorit. Dari ketinggian, Kuala Lumpur tampak sebagai kota modern yang tetap menyimpan jejak budaya. “Kami merasa kecil, tetapi juga bangga bisa sampai di sini membawa nama kampus,” ujar Wasia.
Bagi Narisa, pengalaman ini menjadi pembelajaran tentang keberanian keluar dari zona nyaman. “Kami belajar mandiri, mengelola waktu, dan beradaptasi dengan budaya baru. Itu bekal penting untuk masa depan,” katanya.
Nuriswatu merasakan hal serupa. Ia mengaku semakin memahami makna pengabdian masyarakat dalam konteks global. “KKN ini bukan hanya tentang membantu, tetapi juga tentang belajar dari mereka yang kami temui,” ujarnya.
Sementara itu, Wasia menilai KKN Internasional sebagai ruang refleksi diri. “Kami melihat betapa luas dunia ini, tetapi nilai-nilai keislaman dan kemanusiaan tetap menjadi pegangan utama,” katanya.
Ketiganya sepakat bahwa pengalaman ini memperluas wawasan mereka tentang peran mahasiswa sebagai agen perubahan. Tidak hanya di lingkungan sekitar kampus, tetapi juga di tingkat internasional.
Mereka berharap program KKN Internasional dapat terus dilanjutkan dan diperluas. “Semoga lebih banyak mahasiswa Unisla yang mendapat kesempatan merasakan pengalaman seperti ini,” ujar Narisa.
Bagi FAI Unisla, keikutsertaan tiga mahasiswa ini menjadi bukti komitmen kampus dalam membekali mahasiswa dengan pengalaman global yang berlandaskan nilai keislaman dan kebangsaan.
Pada akhirnya, perjalanan ke Malaysia bukan sekadar catatan geografis, melainkan juga perjalanan batin. Dari ruang kelas hingga dapur, dari interaksi dengan migran hingga menatap kota dari Menara Petronas, Narisa, Nuriswatu, dan Wasia membawa pulang cerita tentang belajar, mengabdi, dan menemukan makna di negeri seberang.