Lamongan, 28 Januari 2026 — Pengalaman belajar tidak selalu harus berlangsung di dalam negeri. Bagi enam mahasiswa Fakultas Agama Islam (FAI) Universitas Islam Lamongan (Unisla), ruang kelas justru meluas hingga ke luar negeri, tepatnya di Sekolah Indonesia Kuala Lumpur (SIKL), Malaysia.
Melalui program Praktik Pengalaman Lapangan (PPL), keenam mahasiswa tersebut menjalani praktik mengajar selama satu bulan, mulai 27 Januari hingga 25 Februari 2026. Program ini menjadi bagian dari upaya FAI Unisla dalam memperluas wawasan global mahasiswa sekaligus mengasah kompetensi pedagogik dalam konteks lintas budaya.
Bagi para peserta, pengalaman ini bukan sekadar praktik mengajar, tetapi juga proses adaptasi dengan lingkungan baru yang memiliki dinamika berbeda. Sindy, mahasiswa Program Studi Pendidikan Agama Islam (PAI), mengungkapkan rasa bangga dan syukurnya dapat mengikuti program ini.
“Ini pengalaman yang sangat berharga bagi saya. Bisa mengajar di luar negeri memberikan perspektif baru. Banyak perbedaan yang saya rasakan, mulai dari budaya, etika belajar siswa, hingga cara berinteraksi di dalam kelas,” ujarnya.
Menurutnya, siswa di SIKL memiliki karakteristik yang lebih beragam, baik dari latar belakang keluarga maupun pengalaman internasional, sehingga menuntut pendekatan pembelajaran yang lebih adaptif dan komunikatif.

Hal serupa disampaikan Windi, mahasiswa Program Studi Pendidikan Islam Anak Usia Dini (PIAUD). Ia melihat pengalaman di Malaysia sebagai tantangan sekaligus peluang untuk menguji kemampuan diri.
“Saya merasa ini bukan hanya praktik biasa, tetapi tantangan nyata. Mengajar di lingkungan yang berbeda membuat saya harus lebih kreatif dan fleksibel dalam menyampaikan materi,” katanya.
Windi menambahkan bahwa interaksi dengan siswa di SIKL membantunya memahami pentingnya pendekatan pembelajaran yang kontekstual, terutama dalam menghadapi anak-anak dengan latar budaya yang beragam.
Sementara itu, Wasila, mahasiswa PIAUD asal Maluku, merasakan pengalaman yang tidak kalah berkesan, terutama dalam aspek bahasa. Ia mengaku harus menyesuaikan diri dengan penggunaan bahasa Inggris sebagai bahasa pengantar dalam beberapa situasi pembelajaran.
“Awalnya cukup menantang, terutama karena harus menggunakan bahasa Inggris di kelas. Tetapi dari situ saya belajar banyak, terutama bagaimana menyampaikan materi dengan cara yang lebih sederhana dan komunikatif,” tuturnya.
Pengalaman tersebut, menurut Wasila, justru menjadi titik penting dalam meningkatkan kepercayaan diri sekaligus kompetensi komunikasi lintas bahasa.
Program PPL di SIKL ini tidak hanya memberikan pengalaman teknis mengajar, tetapi juga memperkaya wawasan mahasiswa tentang praktik pendidikan Indonesia di luar negeri. Sekolah Indonesia Kuala Lumpur sendiri merupakan lembaga pendidikan yang melayani anak-anak warga negara Indonesia di Malaysia, dengan kurikulum yang disesuaikan dengan kebutuhan global.

Dekan FAI Unisla, Hepi Ikmal, menyampaikan apresiasi atas terlaksananya program ini serta mengucapkan terima kasih kepada pihak Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Kuala Lumpur dan Kepala SIKL yang telah menerima mahasiswa Unisla.
“Kami sangat mengapresiasi sambutan dan dukungan dari KBRI Kuala Lumpur serta pihak SIKL. Ini merupakan kesempatan berharga bagi mahasiswa kami untuk belajar dan berproses dalam lingkungan internasional,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa program seperti ini menjadi bagian penting dalam menyiapkan mahasiswa yang tidak hanya kompeten secara akademik, tetapi juga memiliki wawasan global, kemampuan adaptasi, dan sensitivitas budaya.
Lebih dari sekadar program akademik, PPL di luar negeri ini mencerminkan transformasi pendidikan tinggi yang semakin terbuka terhadap kolaborasi internasional. Mahasiswa tidak hanya dituntut menguasai teori, tetapi juga mampu mengaplikasikannya dalam konteks nyata yang beragam.
Bagi keenam mahasiswa tersebut, pengalaman di Kuala Lumpur menjadi pelajaran berharga tentang arti menjadi pendidik di era global—bahwa mengajar bukan hanya soal menyampaikan materi, tetapi juga tentang memahami perbedaan, menjembatani budaya, dan membangun komunikasi yang efektif.

Di tengah ruang kelas yang jauh dari tanah air, mereka belajar satu hal penting: pendidikan adalah bahasa universal yang mampu menghubungkan siapa saja, di mana saja.