Skip to main content

Fakultas Agama Islam Unisla

Academic Culture Exchange: Mahasiswa FAI Unisla dan Kansai Gaidai University Berbagi Tradisi dan Pendidikan Islam

Lamongan, 13 Februari 2026 — Suasana hangat dan penuh antusiasme mewarnai kegiatan Academic Culture Exchange antara mahasiswa Fakultas Agama Islam (FAI) Universitas Islam Lamongan (Unisla) dan mahasiswa Kansai Gaidai University, Jepang. Kegiatan ini menjadi ruang perjumpaan lintas budaya yang tidak hanya memperkenalkan tradisi, tetapi juga memperdalam pemahaman akademik dan sosial antarbangsa.

Dalam kegiatan tersebut, mahasiswa FAI Unisla tampil aktif memperkenalkan kekayaan budaya Indonesia kepada mahasiswa Jepang. Shinta, selaku ketua BEM FAI Unisla, memaparkan berbagai unsur budaya khas Indonesia—mulai dari keberagaman tradisi, nilai gotong royong, hingga praktik sosial yang menjadi identitas masyarakat Indonesia.

“Indonesia memiliki kekayaan budaya yang sangat beragam. Melalui kegiatan ini, kami ingin menunjukkan bahwa perbedaan bukanlah penghalang, melainkan kekuatan untuk saling belajar,” ujar Shinta di hadapan peserta.

Tidak hanya budaya umum, aspek pendidikan Islam khas Indonesia juga menjadi perhatian dalam forum ini. Shofiana, perwakilan mahasiswa FAI, menjelaskan secara komprehensif tentang sistem pendidikan Islam di Indonesia yang memiliki karakter unik dan berakar kuat pada masyarakat.

Ia memperkenalkan konsep pesantren sebagai lembaga pendidikan Islam tradisional yang menekankan pembentukan karakter dan kemandirian santri. Selain itu, ia juga menjelaskan peran Taman Pendidikan Al-Qur’an (TPQ) dan madrasah diniyah sebagai fondasi pendidikan keagamaan sejak usia dini.

“Pendidikan Islam di Indonesia tidak hanya berorientasi pada aspek akademik, tetapi juga pembentukan akhlak dan nilai kehidupan,” jelas Shofiana.

Interaksi antar mahasiswa berlangsung cair dan penuh keakraban. Salah satu sesi yang menarik adalah pembelajaran bahasa Jepang dasar, khususnya ungkapan sapaan sehari-hari. Mahasiswa FAI tampak antusias mencoba mengucapkan salam dalam bahasa Jepang, sementara mahasiswa Kansai Gaidai juga menunjukkan ketertarikan terhadap beberapa ungkapan dalam bahasa Indonesia.

Kegiatan semakin hidup dengan adanya permainan interaktif yang melibatkan mahasiswa dari kedua negara. Melalui permainan tersebut, sekat bahasa dan budaya seolah mencair, digantikan oleh tawa dan semangat kebersamaan.

Momentum ini tidak hanya menjadi ajang pertukaran pengetahuan, tetapi juga memperkuat pemahaman lintas budaya di kalangan generasi muda. Dalam konteks global yang semakin terhubung, kemampuan untuk memahami dan menghargai perbedaan menjadi kompetensi yang sangat penting.

Kegiatan Academic Culture Exchange ini diharapkan menjadi langkah awal dalam membangun jejaring akademik yang lebih luas serta membuka peluang kolaborasi di masa depan antara mahasiswa FAI Unisla dan Kansai Gaidai University.

Di tengah perbedaan bahasa, budaya, dan latar belakang, para mahasiswa membuktikan bahwa dialog, keterbukaan, dan rasa ingin tahu adalah kunci untuk membangun jembatan persahabatan antarbangsa.