LAMONGAN — Program Studi Pendidikan Agama Islam (PAI) Fakultas Agama Islam (FAI) Universitas Islam Lamongan (Unisla) menyelenggarakan Pelatihan Al-Qur’an Metode An-Nahdliyah pada Sabtu (7/2/2026) di Gedung A Unisla. Kegiatan ini berlangsung selama dua hari dua malam dan dipandu langsung oleh Mabin An-Nahdliyah Langitan.
Pelatihan tersebut diikuti oleh 111 peserta yang merupakan mahasiswa prodi PAI semester tiga, serta beberapa utusan dari masyarakat umum. Program ini dirancang sebagai pelatihan bersyahadah, yakni pelatihan membaca Al-Qur’an dengan standar kompetensi dan sanad yang jelas.
Dekan FAI Unisla, Hepi Ikmal, menegaskan bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari komitmen fakultas dalam menyiapkan profil lulusan yang relevan dengan kebutuhan lembaga pendidikan dan masyarakat ke depan.

“Pelatihan ini adalah bentuk keseriusan FAI Unisla dalam menyiapkan lulusan yang tidak hanya kompeten secara akademik, tetapi juga memiliki kemampuan tuntas baca Al-Qur’an yang bersanad,” kata Hepi Ikmal.
Ia menambahkan, Direktorat Jenderal Pendidikan Islam (Dirjen Pendis) Kementerian Agama pada 23 Mei 2026 telah meluncurkan program tuntas baca Al-Qur’an yang menyasar guru madrasah dan guru Pendidikan Agama Islam (PAI). Program nasional tersebut, menurutnya, menegaskan pentingnya penguasaan kompetensi membaca Al-Qur’an sebagai prasyarat profesionalisme pendidik.
“FAI Unisla menyiapkan itu sejak di bangku kuliah melalui pelatihan bersyahadah. Ini juga menjadi privilege bagi kami karena mendapat porsi khusus dari Mabin An-Nahdliyah Langitan untuk menyelenggarakan pelatihan setiap tahun,” ujar Hepi.
Ia juga menyampaikan apresiasi kepada Mabin Pusat An-Nahdliyah Langitan yang secara konsisten mendampingi mahasiswa Unisla, serta kepada Ketua Kortan An-Nahdliyah Lamongan, Dr. Ahmad Hanif Fahruddin, atas dukungan penuh terhadap kegiatan tersebut.

Sementara itu, Dr. Ahmad Hanif Fahruddin menyambut positif kepercayaan yang diberikan kepada Mabin An-Nahdliyah Langitan untuk mengasuh pelatihan ini. Menurutnya, belajar Al-Qur’an bukan hanya kewajiban individual, tetapi juga bagian dari dakwah.
“Belajar Al-Qur’an itu harus bersanad. Karena itu, pelatihan ini diasuh langsung oleh para kiai yang telah bersyahadah dan memiliki sanad keilmuan yang jelas,” kata Hanif.
Ia menilai pendekatan bersanad menjadi penting di tengah meningkatnya kebutuhan akan standar kualitas pembelajaran Al-Qur’an, khususnya bagi calon guru agama dan pengajar di lembaga pendidikan Islam.
Pembina Mabin An-Nahdliyah Langitan, KH Hasyim Fahmi, dalam sambutannya meminta para peserta mengikuti pelatihan dengan penuh kesungguhan dan keikhlasan.
“Belajarlah Al-Qur’an dengan niat mencari rida Allah SWT. Keseriusan dan keikhlasan adalah kunci keberkahan ilmu,” ujar KH Hasyim.
Pelatihan ini tidak hanya menekankan pada ketepatan bacaan, tetapi juga pada adab, sanad, dan kesinambungan tradisi keilmuan pesantren. Dengan pendekatan tersebut, FAI Unisla berharap dapat melahirkan lulusan yang tidak hanya cakap mengajar, tetapi juga memiliki legitimasi keilmuan dalam pembelajaran Al-Qur’an di masyarakat.